Konsep Media Pembelajaran PAI
KONSEP
MEDIA PEMBELAJARAN
Makalah ini dipresentasikan untuk mata kuliah
“Media Pembelajaran PAI”
Pada: Senin, 18 Februari 2019
Dosen
Pengampu:
Zeni
Murtafiati Mizani, M.Pd.I
Disusun
Oleh:
Izzatu
Sai’diyah (210317424)
Tri
Ningrum (210317428)
Vebri
Andika (210317433)
KELOMPOK-1 KELAS PAI M
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Media sebagai salah satu komponen dalam kegiatan
belajar mengajar dipilih atas dasar tujuan dan bahan pelajaran yang telah
ditetapkan. Oleh karena itu, pendidik sebagai subyek pembelajaran harus dapat
mengembangkan media yang tepat, sehingga bahan pelajaran yang disampaikan dapat
diterima peserta didik dengan baik. Di samping itu media juga mempunyai fungsi
untuk mengatasi kebosanan dan kelahan yang diakibatkan dari penjelasan pendidik
yang sukar di mengerti. Ada 3 (tiga) jenis media dalam kegiatan belajar
mengajar, yakni: media auditif, visual, dan audiovisual. Pendidik harus mampu
menetapkan atau memutuskan media yang tepat dan sesuai dengan materi pelajaran
sehingga media pembelajaran tersebut akan mempermudah peserta didik dalam memahami
materi yang disampaikan.
Dengan
demikian penggunaan media dalam pengajaran di kelas merupakan sebuah kebutuhan
yang tidak dapat diabaikan. Hal ini dapat dipahami mengingat proses belajar
yang dialami siswa tertumpu pada berbagai kegiatan menambah ilmu dan wawasan
untuk bekal hidup di masa sekarang dan masa akan datang. Salah satu upaya yang
harus ditempuh adalah bagaimana menciptakan situasi belajar yang memungkinkan
terjadinya proses pengalaman belajar pada diri siswa dengan menggerakkan segala
sumber belajar dan cara belajar yang efektif dan efisien.2 Dalam hal ini, media
pengajaran merupakan salah satu pendukung yang efektif dalam membantu
terjadinya proses belajar.
Pada
proses pembelajaran, media pengajaran merupakan wadah dan penyalur pesan dari
sumber pesan, dalam hal ini guru, kepada penerima pesan, dalam hal ini siswa.
Dalam batasan yang lebih luas, Yusufhadi Miarso memberikan batasan media
pengajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang
pikiran,
perasaan,
perhatian, dan kemauan siswa sehingga mendorong terjadinya proses belajar pada
diri siswa.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa pengertian media pembelajaran?
2. Apa saja tujuan
media pembelajaran?
3. Siapa saja manfaat
media pembelajaran?
4. Apa landasan dari
penggunaan media pembelajaran?
C.
Tujuan
Pembahasan
Untuk mengetahui:
1. Pengertian media pembelajaran?
2. Tujuan media
pembelajaran?
3. Manfaat media
pembelajaran?
4. Landasan dari
penggunaan media pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Media Pembelajaran
Kata
media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’,
‘perantara’ (Gerlach & Ely, 1980). Dengan demikian media merupakan wahana
penyalur informasi atau penyalur pesan. Secara luas media dapat diartikan
dengan manusia, peristiwa benda atau peristiwa yang memungkinkan anak didik
memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Secara lebih khusus , pengertian media
dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis,
photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali
informasi visual atau verbal.
Menurut
Gerlach secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan, atau kegiatan
yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan,
keterampilan, dan sikap. Jadi dalam pengertian ini media bukan hanya perantara
seperti TV, radio, slide, bahan cetakan, tetapi meliputi orang atau manusia
sebagai sumber belajar atau kegiatan semacam diskusi, seminar, karyawisata,
simulasi, dan lain sebagainya yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan dan
wawasan, mengubah sikap siswa, atau untuk menambah keterampilan.
Dari
beberapa pengertian yang telah disebutkan di atas dapat dipahami bahwa;
Pertama, para ahli membatasi pengertian media dengan; orang, bahan, teknologi,
sarana, alat, dan saluran atau berupa kegiatan yang dirancang untuk terjadinya proses belajar. Kedua, para ahli
membatasi pengertian media dengan; Pesan atau informasi, yang dibawa atau
disampaikan melalui hardware sebagaimana tersebut di atas. Batasan ketiga,
bahwa pesan yang dibawa diperuntukan sebagai perangsang terjadinya proses
belajar (bahan ajar).
Sedangkan
media pembelajaran adalah sarana atau alat bantu pendidikan yang dapat
digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi
efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pengajran. Dalam pengertian
yang lebih luas, media pembelajaran adalah alat metode dan teknik yang
digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara
pengajar dan pembelajar dalam proses pembelajaran di kelas.[1] Jadi
dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan alat yang dapat membantu
suatu proses pembelajaran dengan memudahkan pengajar untuk menyampaikan suatu
informasi kepada pembelajar agar dapat terwujudnya suatu tujuan pendidikan yang
sudah ditentukan sebelumnya.
B.
Tujuan
Media Pembelajaran
Tujuan media pembelajaran sebagai alat bantu
pembelajaran untuk:
1. Mempermudah proses
pembelajaran di kelas
2. Meningkatkan
efisiensi proses pembelajaran
3. Menjaga relevansi
antara materi pelajaran dengan tujuan belajar
4. Membantu kosentrasi
pembelajar dalam proses pembelajaran.[2]
C.
Manfaat
Media Pembelajaran
Manfaat media
pembelajaran baik secara umum maupun khusus sebagai alat bantu pembelajaran
bagi pengajar dan pembelajaran. Jadi manfaat media pembelajaran adalah:
1. Pengajaran lebih
menarik perhatian pembelajaran sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
2. Bahan pengajaran
akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat lebih difahami pembelajar, serta
memungkinkan pembelajar menguasai tujuan pengajaran dengan baik.
3. Metode pembelajaran
bervariasi, tidak semata-mata hanya komunikasi verbal melalui penuturan
kata-kata lisan pengajar, pembelajar tidak bosan, dan pengajar tidak kehabisan
tenaga.
4. Pembelajar lebih
banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan penjelasan
dari pengajar saja, tetapi juga aktivitas lain yang dilakukan seperti:
mengamati, melakukan, mendemostrasikan, dan lain-lain. [3]
Selain itu, manfaat
media pembelajaran bagi pengajar dan pembelajar, sebagai berikut:
1. Manfaat media
pembelajaran bagi pengajar, sebagai berikut:
a. Memberikan pedoman,
arah untuk mencapai tujuan pembelajaran.
b. Menjelaskan
struktur dan urutan pengajaran secara baik.
c. Memberikan kerangka
sistematis mengajar secara baik.
d. Memudahkan kendali
pengajar terhadap materi pelajaran.
e. Membantu
kecermatan, ketelitian dalam penyajian materi pelajaran.
f. Membangkitkan rasa
percaya diri seorang pengajar.
g. Meningkatkan
kualitas pengajaran.
h. Memberikan dan
meningkatkan variasi belajar.
i.
Menyajikan inti informasi, pokok-pokok secara
sistematik, sehingga memudahkan penyampaian.
j.
Menciptakan kondisi suatu belajar yang menyenangkan
dan tanpa tekanan.
2. Manfaat media
pembelajaran bagi pembelajar, adalah:
a. Meningkatkan
motivasi belajar pembelajar.
b. Memberikan dan
meningkatkan variasi belajar bagi pembelajar.
c. Memudahkan
pembelajar untuk belajar.
d. Merangsang
pembelajar untuk berfikir dan beranalisis.
e. Pembelajaran dalam
kondisi dan situasi belajar yang menyenangkan dan tanpa tekanan.
f. Pembelajar dapat
memahami materi pelajaran secara sistematis yang disajikan . [4]
D.
Landasan
Penggunaan Media Pembelajaran
Telah dikaji pada bagian
sebelumnya bahwa agar interaksi belajar mengajar dapat berjalan efektif dan
efisien perlu digunakan media yang tepat. Ketepatan yang dimaksud tergantung
pada tujuan pembelajaran, pesan (isi) pembelajaran dan karakteristik siswa yang
terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Pada bagian ini akan dikaji lebih dalam
mengapa butir-butir ini yang dijadikan kriteria dalam menetapkan ketepatan
penggunaan suatu media pembelajaran. Dalam konteks ini, kita akan menggunakan 4
landasan, yaitu: landasan psikologis, teknologis, empiris, dan filosofis.
Tetapi sebelum masuk ke dalam bahasan tersebut, kita harus mengetahui terlebih
dahulu mengenai landasan itu sendiri.
Landasan adalah dasar tempat
berpijak atau tempat di mulainya suatu perbuatan. Dalam bahasa Inggris,
landasan disebut dengan istilah foundation, yang dalam bahasa Indonesia menjadi fondasi. Fondasi merupakan bagian
terpenting untuk mengawali sesuatu.
Adapun menurut S. Wojowasito, bahwa landasan dapat diartikan sebagai alas
ataupun dapat diartikan sebagai fondasi, dasar, pedoman dan sumber.
Istilah lain yang hampir sama
(identik) dengan kata landasan adalah kata dasar (basic). Kata dasar adalah
awal, permulaan atau titik tolak segala sesuatu. Pengertian dasar, sebenarnya
lebih dekat pada referensi pokok (basic
reference) dari pengembangan sesuatu. Jadi, kata dasar lebih luas pengertian
dari kata fondasi atau landasan. Karena itu, kata fondasi atau landasan dengan
kata dasar (basic reference) merupakan dua hal yang berbeda wujudnya, tetapi
sangat erat hubungannya maka, setiap ilmu yang berhubungan dan berkenaan dengan
pelaksanaan pendidikan, merupakan hasil dari pemikiran tentang alam atau
manusia. Oleh karenanya, ilmu-ilmu itu dapat dikatakan sebagai fondasi atau
dasar pendidikan.[5] Jadi,
dilihat dari pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa landasan
adalah fondasi atau dasar tempat
berpijaknya sesuatu. Ada beberapa tinjauan tentang landasan penggunaan media
pembelajaran sebagai berikut:
1.
Landasan Historis
Yang dimaksud dengan landasan historis media pembelajaran
ialah rasional penggunaan media pembelajaran yang ditinjau dari sejarah konsep
istilah media digunakan dalam pembelajaran. Untuk mengetahui latar belakang
sejarah penggunaan konsep media pembelajaran marilah kita ikuti penjelasan
berikut ini. Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan
lahirnya kon-sepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun
1923.Yang dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pengajaran visual
ini adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan
pengalaman visual yang nyata kepada pembelajar.
Kemudian konsep pengajaran visual ini berkembang menjadi
“audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun
1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual
materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti dari
kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk
memindahkan gagasan dan pengalaman pembelajar melalui mata dan telinga. Pemanfaatan
konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar
Dale. Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut
“audio visual communication” pada tahun 1950-an. Dengan diterapkannya konsep
komunikasi dalam pembelajaran, peekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau
bahan yang berupa bahan audio visual untuk pembelajaran, tetapi dipusatkan pada
keseluruhan proses komu-nikasi informasi atau pesan dari sumber (guru, materi
atau bahan) kepada penerima (pebelajar). Gerakan komunikasi audio visual
memberikan penekakan kepada proses komunikasi yang lengkap dengan menggunakan
sistem pembelajaran yang utuh. Jadi konsepsi audio visual berusaha mengaplikasikan
konsep komunikasi, sistem, desain sistem pembelajaran dan teori belajar dalam
kegiatan pembelajaran. Perkembangan
berikutnya terjadi sekitar tahun 1952 dengan munculnya konsepsi “instructional
materials” yang secara kosepsional tidak banyak berbeda dengan konsepsi
sebelumnya. Karena pada intinya konsepsi ini ialah mengaplikasikan proses
komunikasi dan sistem dalam merencanakan dan mengembangkan materi pembelajaran.
Beberapa istilah yang merupakan variasi penggunaan konsepsi “instructional
materials” adalah “teaching/ learning materials”, “learning resources”.
Dalam tahun 1952 ini juga telah digunakan istilah
“educational media” dan “instructional media”, yang sebenarnya secara
konsepsional tidak mengalami perubahan dari konsepsi sebelumnya, karena di sini
dimaksudkan untuk menunjukkan kegiatan komunikasi pendidikan yang ditimbulkan
dengan penggunaan media tersebut. Puncak perkembangan konsepsi ini terjadi
sekitar tahun 1960-an. Dengan mengaplikasikan pendekatan sistem, teori
komunikasi, pengembangan sistem pembelajaran, dan pengaruh psikologi
Behaviorisme, maka muncullah konsep “educational technology” dan/ atau
“instructional technology” di mana media pendidikan atau media pembelajaran
merupakan bagian dari padanya.
2.
Landasan Filosofis
Konsep pendidikan secara filosofis mirip dengan pendidikan
klasikal, yaitu bertumpu pada asumsi bahwa model pendidikan itu hendaknya
merupakan suatu bentuk atau contoh utama dari masyarakat yang lebih luas
sebagai hasil karya pendidikan. Dengan demikian, maka dalam konteks masyarakat
yang lebih luas titik berat penekanannya ditujukan pada dimensi-dimensi,
kecenderungan-kecenderungan untuk timbulnya masyarakat teknologi.
Suatu pandangan beranggapan bahwa penerapan media hasil
teknologi baru di dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Akan tetapi
dengan adanya berbagai media pembelajaran justru siswa mempunyai banyak pilihan untuk menggunakan
media yang sesuai dengan karakternya.
Dengan demikian penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi.[6]
3.
Landasan Psikologis
Landasan psikologi ialah alasan atau rasional mengapa
media pembelajaran dipergunakan ditinjau dari kondisi pelajar dan bagaimana
proses belajar itu terjadi. Namun dapat dikatakan bahwa belajar itu adalah
kegiatan yang bertujuan dan di dalamnya terjadi perubahan dari tidak tahu
menjadi tahu, dari tahu menjadi lebih tahu, dari belum bisa menjadi bisa, dan
bisa menjadi terampil. Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat
mempengaruhi kuantitas dan kualitas hasil pembelajaran siswa. Namun, di antara
faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu
adalah sebagai berikut:
a. Tingkat kecerdasan siswa
b. Sikap siswa
c. Bakat siswa
d. Minat siswa
e. Motivasi siswa
Ciri tingkah laku yang diperoleh dari hasil belajar adalah:
a.
Terbentuknya tingkah laku baru berupa kemampuan aktual dan
potensial.
b.
Kemampuan baru tersebut berlaku dalam waktu yang relatif lama.
c.
Kemampuan baru tersebut diperoleh melalui usaha.
Studi
yang mempelajari tingkah laku individu ada dalam bidang psikologi. Oleh sebab
itu, media pembelajaran sebagai upaya membantu siswa dalam mencapai tujuan
pembelajaran juga didasarkan atas psikologis. Dengan memperhatikan kompleks dan
uniknya proses belajar, maka ketepatan pemelihan media akan sangat berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa. Oleh sebab itu, pemakaian media dalam pendidikan
sangat berkaitan dengan perkembangan psikologi belajar peserta didik. Pada
hakikatnya, tujuan pendidikan termasuk pengajaran adalah diperolehnya perubahan
tingkah laku individu perubahan tingkah laku itu wujud dari hasil belajar.[7]
4.
Landasan Teknologis
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, teknologi komunikasi dan informasi mengalami kemajuan yang sangat
pesat untuk selanjutnya berpengaruh terhadap pola komunikasi di masyarakat. Dalam
konteks pendidikan yang lebih umum ataupun hanya proses belajar mengajar,
teknologi pendidikan merupakan pengembangan penerapan,dan penilaian sistem,
teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar
manusia. Dengan demikian aspek-aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang
merupakan hasil penelitian, perangkat dan peralatan teknis atau hardware, dan
perangkat lunaknya atau software. Sasaran akhir teknologi pembelajaran adalah
memudahkan pembelajar untuk belajar. Media belajar sebagai bagian dari
teknologi pembelajaran memiliki manfaat yaitu :
a.
Meningkatkan produktifitas pendidik.
Mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan
waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi,
sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
b.
Memberikan kemungkinan pembelajar yang sifatnya lebih individual.
Variasi dalam cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam
proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang
sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajar.
c.
Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran.
Perencanaan progam pembelajaran lebih sistematis, pengembangan
bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa,
karakteristik bahan pembelajaran dan analisis.
d.
Lebih memantapkan pembelajaran.
Meningkatkan kapasitas manusia menyerap informasi dengan melalui
berbagai media komunikasi, dimana informasi dan data yang diterima lebih
banyak, lebih lengkap, dan akurat. Karena media mengatasi jurang pemisah antara
pembelajar dan sumber belajar, dan mengatasi keterbatasan manusia pada ruang
dan waktu dalam memperoleh informasi.
e.
Dengan media dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih
langsung atau seketika. [8]
5.
Landasan Empiris
Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi
antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam
menentukan hasil belajar siswa. Artinya, bahwa siswa akan mendapat keuntungan
yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan
karakteristiknya. Siswa yang memiliki gaya belajar visual akan lebih
mendapatkan keuntungan dari menggunakan media visual, seperti film, video,
gambar atau diagram. Sedangkan siswa yang memiliki gaya belajar auditif lebih
mendapatkan keuntungan dari penggunaan media pembelajaran auditif, seperti
rekaman suara , radio atau ceramah dari guru/ pengajar. Akan lebih tepat dan
menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar
tersebut jika menggunakan media audio-visual.
Menurut sukiman dalam bukunya pengembangan media
pembelajaran, agar proses belajar dapat efektif perlu juga disesuaikan dengan
tipe atau gaya belajar peserta didik. Gaya belajar adalah kecenderungan orang
untuk menggunakan cara tertentu dalam belajar. Secara umum ada tiga macam gaya
belajar, yaitu:
a.
Visual, yaitu belajar melalui apa yang dilihat. Ciri-ciri gaya
visual adalah teliti terhadap yang detail, mengingat dengan mudah apa yang
dilihat, mempunyai masalah dengan instruksi lisan, tidak mudah terganggu dengan
suara gaduh, pembaca cepat dan tekun, lebih suka membaca dari pada dibacakan,
lebih suka metode demonstrasi dari pada ceramah, bila menyampaikan gagasan
sulit memilih kata, rapih dan teratur, dan penampilan sangat penting.
b.
Auditorial, yaitu belajar melalui apa yang didengar. Ciri-ciri
gaya belajar auditorial adalah bicara pada diri sendiri saat bekerja,
konsentrasi mudah terganggu oleh suara ribut, senang bersuara keras ketika
membaca, sulit menulis tapi mudah bercerita, pembicara yang fasih, sulit
belajar dalam suasana bising, lebih suka musik dari pada lukisan, bicara dalam
irama yang terpola, lebih suka gurauan lisan dari pada membaca buku humor, dan
mudah menirukan nada, irama dan warna suara.
c.
Kinestetik, yaitu belajar lewat gerak dan sentuhan. Ciri-ciri gaya
belajar kinestetik adalah berbicara dengan perlahan, menanggapi perhatian
fisik, menyentuh orang untuk mendapat perhatian, banyak bergerak dan selalu
berorientasi pada fisik, menggunakan jari sebagai penunjuk dalam membaca,
banyak menggunakan isyarat tubuh, tidak bisa diam dalam waktu lama, menyukai
permainan yang menyibukkan, selalu ingin melakukan sesuatu, dan tidak mudah
mengingat letak geografis.
Berdasakan landasan rasional empiris tersebut, pemilihan media
pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru. Akan tetapi harus
mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pembelajar, materi pelajaran,
dan media itu sendiri.[9]
6.
Landasan Religius
Menurut Drs. Mahfudh Shalahudin dalam bukunya Media
Pendidikan Islam menyatakan ada beberapa dasar penggunaan media di antaranya
adalah dasar religius yang berkenaan dengan penggunaan media pembelajaran.
Dalam masalah penerapan media pendidikan agama, harus memperhatiakn jiwa
keagamaan peserta didik. Oleh karena faktor inilah yang justru menjadi sasaran
media pendidikan agama yang sangat prinsipil. Dengan tanpa memperhatikan serta
memahami perkembangan jiwa anak atau tingkat daya fikir anak. Sebagaimana firman
Allah surat An-Nahl ayat 125:
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-NYA dan
dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”[10]
Hikmah adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat
membedakan antara yang haq dan batil. Bermacam-macam orang mengartikan kata
“hikmah” dalam arti “bijaksana”. Adapun yang mengartikan hikmah dengan cara
yang tepat dan efektif.
Dapat disimpulkan bahwa hikmah adalah cara yang bijaksana,
tepat, efektif, dan dapat diterima dengan akal. Oleh karena itu tugas
pengamatan yang pertama harus dilakukan oleh guru agama sebagai pendidik adalah pengamatan langsung kepada perkembangan
keagamaan anak didik. Sebab perkembangan sikap keagamaan anak sangat erat
hubungannya dengan sikap percaya kepada Tuhan, yang telah diberikan di lingkungan
keluarga atau masyarakat, yang selanjutnya dapat dijadikan bahan dasar
pengertian dalam melaksanakan tugas sesuai dengan metode yang dipakai dalam
proses belajar mengajar.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Media
pembelajaran adalah sarana yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan
efektifitas kegiatan belajar mengajar agar dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam penggunaan media pembelajaran perlu memperhatikan beberapa landasan
yaitu: filosofis, historis, empiris, psikologis, teknologis, dan religius.
Penggunaan media pembelajaran bertujuan untuk mempermudah dan meningkatkan
efisiensi KBM, dan meningkatkan relevansi tujuan pembelajaran serta
meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Dengan adanya media pembelajaran,
banyak manfaat yang dapat diperoleh antara lain: proses KBM menjadi lebih
menarik dan menyenangkan, serta tidak mengandung unsur tekanan, materi ajar
dapat lebih mudah dipahami baik oleh pendidik maupun peserta didik, penggunaan
metode yang bervariasi menjadikan siswa menjadi aktif karena siswa bukan hanya
menjadi objek pembelajaran tapi juga sebagai subjek pembelajaran.
DAFTAR
PUSTAKA
Arsyad, Azhar. 2003. Media
Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Departemen
Agama RI. Al-Quran dan terjemahannya. Semarang: PT Karya Toha Putra.
Hamalik,
Oemar. 1989. Media Pendidikan. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Sanaky, Hujair AH.
2015. Media Pembelajaran
Interaktif-Inovatif. Yogyakarta: Kaukaba Dipantara.
Sudjana, nana dkk. 2001. Teknologi Pengajaran. Bandung: Sinar
Baru Algensindo.
Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi
Belajar. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu.
Uwes,
Sunasi. 2001. Visi dan Pondasi Pendidikan
Dalam Perspektif Islam. Jakarta: Logos.
[1] Oemar Hamalik, Media Pendidikan, (Bandung: PT Citra
Aditya Bakti,1989), 12
[2] Hujair AH Sanaky, Media Pembelajaran Interaktif-Inovatif, (Yogyakarta:
Kaukaba Dipantara, 2015), 5
[3] Ibid, 5
[4] Ibid, 6

NICE
BalasHapus