Konsep Media Pembelajaran PAI


KONSEP MEDIA PEMBELAJARAN
Makalah ini dipresentasikan untuk mata kuliah “Media Pembelajaran PAI”
Pada: Senin, 18 Februari 2019



Dosen Pengampu:
Zeni Murtafiati Mizani, M.Pd.I

Disusun Oleh:
Izzatu Sai’diyah          (210317424)
Tri Ningrum                (210317428)
Vebri Andika              (210317433)


KELOMPOK-1 KELAS PAI M
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO
2019



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
 Media sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar dipilih atas dasar tujuan dan bahan pelajaran yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, pendidik sebagai subyek pembelajaran harus dapat mengembangkan media yang tepat, sehingga bahan pelajaran yang disampaikan dapat diterima peserta didik dengan baik. Di samping itu media juga mempunyai fungsi untuk mengatasi kebosanan dan kelahan yang diakibatkan dari penjelasan pendidik yang sukar di mengerti. Ada 3 (tiga) jenis media dalam kegiatan belajar mengajar, yakni: media auditif, visual, dan audiovisual. Pendidik harus mampu menetapkan atau memutuskan media yang tepat dan sesuai dengan materi pelajaran sehingga media pembelajaran tersebut akan mempermudah peserta didik dalam memahami materi yang disampaikan.
Dengan demikian penggunaan media dalam pengajaran di kelas merupakan sebuah kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Hal ini dapat dipahami mengingat proses belajar yang dialami siswa tertumpu pada berbagai kegiatan menambah ilmu dan wawasan untuk bekal hidup di masa sekarang dan masa akan datang. Salah satu upaya yang harus ditempuh adalah bagaimana menciptakan situasi belajar yang memungkinkan terjadinya proses pengalaman belajar pada diri siswa dengan menggerakkan segala sumber belajar dan cara belajar yang efektif dan efisien.2 Dalam hal ini, media pengajaran merupakan salah satu pendukung yang efektif dalam membantu terjadinya proses belajar.
Pada proses pembelajaran, media pengajaran merupakan wadah dan penyalur pesan dari sumber pesan, dalam hal ini guru, kepada penerima pesan, dalam hal ini siswa. Dalam batasan yang lebih luas, Yusufhadi Miarso memberikan batasan media pengajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran,
perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa.

B.     Rumusan Masalah
1.       Apa pengertian media pembelajaran?
2.      Apa saja tujuan media pembelajaran?
3.      Siapa saja manfaat media pembelajaran?
4.      Apa landasan dari penggunaan media pembelajaran?

C.    Tujuan Pembahasan
Untuk mengetahui:
1.       Pengertian media pembelajaran?
2.      Tujuan media pembelajaran?
3.      Manfaat media pembelajaran?
4.      Landasan dari penggunaan media pembelajaran







BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ (Gerlach & Ely, 1980). Dengan demikian media merupakan wahana penyalur informasi atau penyalur pesan. Secara luas media dapat diartikan dengan manusia, peristiwa benda atau peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Secara lebih khusus , pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
Menurut Gerlach secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan, atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Jadi dalam pengertian ini media bukan hanya perantara seperti TV, radio, slide, bahan cetakan, tetapi meliputi orang atau manusia sebagai sumber belajar atau kegiatan semacam diskusi, seminar, karyawisata, simulasi, dan lain sebagainya yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, mengubah sikap siswa, atau untuk menambah keterampilan.
Dari beberapa pengertian yang telah disebutkan di atas dapat dipahami bahwa; Pertama, para ahli membatasi pengertian media dengan; orang, bahan, teknologi, sarana, alat, dan saluran atau berupa kegiatan yang dirancang untuk terjadinya proses belajar. Kedua, para ahli membatasi pengertian media dengan; Pesan atau informasi, yang dibawa atau disampaikan melalui hardware sebagaimana tersebut di atas. Batasan ketiga, bahwa pesan yang dibawa diperuntukan sebagai perangsang terjadinya proses belajar (bahan ajar).
Sedangkan media pembelajaran adalah sarana atau alat bantu pendidikan yang dapat digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pengajran. Dalam pengertian yang lebih luas, media pembelajaran adalah alat metode dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara pengajar dan pembelajar dalam proses pembelajaran di kelas.[1] Jadi dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan alat yang dapat membantu suatu proses pembelajaran dengan memudahkan pengajar untuk menyampaikan suatu informasi kepada pembelajar agar dapat terwujudnya suatu tujuan pendidikan yang sudah ditentukan sebelumnya.

B.     Tujuan Media Pembelajaran
Tujuan media pembelajaran sebagai alat bantu pembelajaran untuk:
1.      Mempermudah proses pembelajaran di kelas
2.      Meningkatkan efisiensi proses pembelajaran
3.      Menjaga relevansi antara materi pelajaran dengan tujuan belajar
4.      Membantu kosentrasi pembelajar dalam proses pembelajaran.[2]

C.    Manfaat Media Pembelajaran
Manfaat media pembelajaran baik secara umum maupun khusus sebagai alat bantu pembelajaran bagi pengajar dan pembelajaran. Jadi manfaat media pembelajaran adalah:
1.      Pengajaran lebih menarik perhatian pembelajaran sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
2.      Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat lebih difahami pembelajar, serta memungkinkan pembelajar menguasai tujuan pengajaran dengan baik.
3.      Metode pembelajaran bervariasi, tidak semata-mata hanya komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata lisan pengajar, pembelajar tidak bosan, dan pengajar tidak kehabisan tenaga.
4.      Pembelajar lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan penjelasan dari pengajar saja, tetapi juga aktivitas lain yang dilakukan seperti: mengamati, melakukan, mendemostrasikan, dan lain-lain. [3]
Selain itu, manfaat media pembelajaran bagi pengajar dan pembelajar, sebagai berikut:
1.      Manfaat media pembelajaran bagi pengajar, sebagai berikut:
a.       Memberikan pedoman, arah untuk mencapai tujuan pembelajaran.
b.      Menjelaskan struktur dan urutan pengajaran secara baik.
c.       Memberikan kerangka sistematis mengajar secara baik.
d.      Memudahkan kendali pengajar terhadap materi pelajaran.
e.       Membantu kecermatan, ketelitian dalam penyajian materi pelajaran.
f.       Membangkitkan rasa percaya diri seorang pengajar.
g.      Meningkatkan kualitas pengajaran.
h.      Memberikan dan meningkatkan variasi belajar.
i.        Menyajikan inti informasi, pokok-pokok secara sistematik, sehingga memudahkan penyampaian.
j.        Menciptakan kondisi suatu belajar yang menyenangkan dan tanpa tekanan.
2.      Manfaat media pembelajaran bagi pembelajar, adalah:
a.       Meningkatkan motivasi belajar pembelajar.
b.      Memberikan dan meningkatkan variasi belajar bagi pembelajar.
c.       Memudahkan pembelajar untuk belajar.
d.      Merangsang pembelajar untuk berfikir dan beranalisis.
e.       Pembelajaran dalam kondisi dan situasi belajar yang menyenangkan dan tanpa tekanan.
f.       Pembelajar dapat memahami materi pelajaran secara sistematis yang disajikan . [4]

D.    Landasan Penggunaan Media Pembelajaran
Telah dikaji pada bagian sebelumnya bahwa agar interaksi belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien perlu digunakan media yang tepat. Ketepatan yang dimaksud tergantung pada tujuan pembelajaran, pesan (isi) pembelajaran dan karakteristik siswa yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Pada bagian ini akan dikaji lebih dalam mengapa butir-butir ini yang dijadikan kriteria dalam menetapkan ketepatan penggunaan suatu media pembelajaran. Dalam konteks ini, kita akan menggunakan 4 landasan, yaitu: landasan psikologis, teknologis, empiris, dan filosofis. Tetapi sebelum masuk ke dalam bahasan tersebut, kita harus mengetahui terlebih dahulu mengenai landasan itu sendiri.
Landasan adalah dasar tempat berpijak atau tempat di mulainya suatu perbuatan. Dalam bahasa Inggris, landasan disebut dengan istilah foundation, yang dalam bahasa Indonesia  menjadi fondasi. Fondasi merupakan bagian terpenting untuk mengawali  sesuatu. Adapun menurut S. Wojowasito, bahwa landasan dapat diartikan sebagai alas ataupun dapat diartikan sebagai fondasi, dasar, pedoman dan sumber.
Istilah lain yang hampir sama (identik) dengan kata landasan adalah kata dasar (basic). Kata dasar adalah awal, permulaan atau titik tolak segala sesuatu. Pengertian dasar, sebenarnya lebih dekat pada referensi pokok  (basic reference) dari pengembangan sesuatu. Jadi, kata dasar lebih luas pengertian dari kata fondasi atau landasan. Karena itu, kata fondasi atau landasan dengan kata dasar (basic reference) merupakan dua hal yang berbeda wujudnya, tetapi sangat erat hubungannya maka, setiap ilmu yang berhubungan dan berkenaan dengan pelaksanaan pendidikan, merupakan hasil dari pemikiran tentang alam atau manusia. Oleh karenanya, ilmu-ilmu itu dapat dikatakan sebagai fondasi atau dasar pendidikan.[5] Jadi, dilihat dari pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa landasan adalah fondasi  atau dasar tempat berpijaknya sesuatu. Ada beberapa tinjauan tentang landasan penggunaan media pembelajaran sebagai berikut:
1.      Landasan Historis
Yang dimaksud dengan landasan historis media pembelajaran ialah rasional penggunaan media pembelajaran yang ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran. Untuk mengetahui latar belakang sejarah penggunaan konsep media pembelajaran marilah kita ikuti penjelasan berikut ini. Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya kon-sepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923.Yang dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual yang nyata kepada pembelajar.
Kemudian konsep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman pembelajar melalui mata dan telinga. Pemanfaatan konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar Dale. Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “audio visual communication” pada tahun 1950-an. Dengan diterapkannya konsep komunikasi dalam pembelajaran, peekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan yang berupa bahan audio visual untuk pembelajaran, tetapi dipusatkan pada keseluruhan proses komu-nikasi informasi atau pesan dari sumber (guru, materi atau bahan) kepada penerima (pebelajar). Gerakan komunikasi audio visual memberikan penekakan kepada proses komunikasi yang lengkap dengan menggunakan sistem pembelajaran yang utuh. Jadi konsepsi audio visual berusaha mengaplikasikan konsep komunikasi, sistem, desain sistem pembelajaran dan teori belajar dalam kegiatan pembelajaran.  Perkembangan berikutnya terjadi sekitar tahun 1952 dengan munculnya konsepsi “instructional materials” yang secara kosepsional tidak banyak berbeda dengan konsepsi sebelumnya. Karena pada intinya konsepsi ini ialah mengaplikasikan proses komunikasi dan sistem dalam merencanakan dan mengembangkan materi pembelajaran. Beberapa istilah yang merupakan variasi penggunaan konsepsi “instructional materials” adalah “teaching/ learning materials”, “learning resources”.
Dalam tahun 1952 ini juga telah digunakan istilah “educational media” dan “instructional media”, yang sebenarnya secara konsepsional tidak mengalami perubahan dari konsepsi sebelumnya, karena di sini dimaksudkan untuk menunjukkan kegiatan komunikasi pendidikan yang ditimbulkan dengan penggunaan media tersebut. Puncak perkembangan konsepsi ini terjadi sekitar tahun 1960-an. Dengan mengaplikasikan pendekatan sistem, teori komunikasi, pengembangan sistem pembelajaran, dan pengaruh psikologi Behaviorisme, maka muncullah konsep “educational technology” dan/ atau “instructional technology” di mana media pendidikan atau media pembelajaran merupakan bagian dari padanya.


2.      Landasan Filosofis
Konsep pendidikan secara filosofis mirip dengan pendidikan klasikal, yaitu bertumpu pada asumsi bahwa model pendidikan itu hendaknya merupakan suatu bentuk atau contoh utama dari masyarakat yang lebih luas sebagai hasil karya pendidikan. Dengan demikian, maka dalam konteks masyarakat yang lebih luas titik berat penekanannya ditujukan pada dimensi-dimensi, kecenderungan-kecenderungan untuk timbulnya masyarakat teknologi.
Suatu pandangan beranggapan bahwa penerapan media hasil teknologi baru di dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Akan tetapi dengan adanya berbagai media pembelajaran justru siswa  mempunyai banyak pilihan untuk menggunakan media yang sesuai dengan karakternya.  Dengan demikian penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi.[6]
3.      Landasan Psikologis
Landasan psikologi ialah alasan atau rasional mengapa media pembelajaran dipergunakan ditinjau dari kondisi pelajar dan bagaimana proses belajar itu terjadi. Namun dapat dikatakan bahwa belajar itu adalah kegiatan yang bertujuan dan di dalamnya terjadi perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi lebih tahu, dari belum bisa menjadi bisa, dan bisa menjadi terampil. Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas hasil pembelajaran siswa. Namun, di antara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:
a. Tingkat kecerdasan siswa
b. Sikap siswa
c. Bakat siswa
d. Minat siswa
e. Motivasi siswa
Ciri tingkah laku yang diperoleh dari hasil belajar adalah:
a.       Terbentuknya tingkah laku baru berupa kemampuan aktual dan potensial.
b.      Kemampuan baru tersebut berlaku dalam waktu yang relatif lama.
c.       Kemampuan baru tersebut diperoleh melalui usaha.
Studi yang mempelajari tingkah laku individu ada dalam bidang psikologi. Oleh sebab itu, media pembelajaran sebagai upaya membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran juga didasarkan atas psikologis. Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemelihan media akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Oleh sebab itu, pemakaian media dalam pendidikan sangat berkaitan dengan perkembangan psikologi belajar peserta didik. Pada hakikatnya, tujuan pendidikan termasuk pengajaran adalah diperolehnya perubahan tingkah laku individu perubahan tingkah laku itu wujud dari hasil belajar.[7]
4.      Landasan Teknologis
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teknologi komunikasi dan informasi mengalami kemajuan yang sangat pesat untuk selanjutnya berpengaruh terhadap pola komunikasi di masyarakat. Dalam konteks pendidikan yang lebih umum ataupun hanya proses belajar mengajar, teknologi pendidikan merupakan pengembangan penerapan,dan penilaian sistem, teknik dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia. Dengan demikian aspek-aspeknya meliputi pertimbangan teoritik yang merupakan hasil penelitian, perangkat dan peralatan teknis atau hardware, dan perangkat lunaknya atau software. Sasaran akhir teknologi pembelajaran adalah memudahkan pembelajar untuk belajar. Media belajar sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki manfaat yaitu :
a.       Meningkatkan produktifitas pendidik.
Mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
b.      Memberikan kemungkinan pembelajar yang sifatnya  lebih individual.
Variasi dalam cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajar.
c.       Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran.
Perencanaan progam pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa, karakteristik bahan pembelajaran dan analisis.
d.      Lebih memantapkan pembelajaran.
Meningkatkan kapasitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, dimana informasi dan data yang diterima lebih banyak, lebih lengkap, dan akurat. Karena media mengatasi jurang pemisah antara pembelajar dan sumber belajar, dan mengatasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh informasi.
e.       Dengan media dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung atau seketika. [8]
5.      Landasan Empiris
Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, bahwa siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristiknya. Siswa yang memiliki gaya belajar visual akan lebih mendapatkan keuntungan dari menggunakan media visual, seperti film, video, gambar atau diagram. Sedangkan siswa yang memiliki gaya belajar auditif lebih mendapatkan keuntungan dari penggunaan media pembelajaran auditif, seperti rekaman suara , radio atau ceramah dari guru/ pengajar. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa  dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual.
Menurut sukiman dalam bukunya pengembangan media pembelajaran, agar proses belajar dapat efektif perlu juga disesuaikan dengan tipe atau gaya belajar peserta didik. Gaya belajar adalah kecenderungan orang untuk menggunakan cara tertentu dalam belajar. Secara umum ada tiga macam gaya belajar, yaitu:
a.       Visual, yaitu belajar melalui apa yang dilihat. Ciri-ciri gaya visual adalah teliti terhadap yang detail, mengingat dengan mudah apa yang dilihat, mempunyai masalah dengan instruksi lisan, tidak mudah terganggu dengan suara gaduh, pembaca cepat dan tekun, lebih suka membaca dari pada dibacakan, lebih suka metode demonstrasi dari pada ceramah, bila menyampaikan gagasan sulit memilih kata, rapih dan teratur, dan penampilan sangat penting.
b.      Auditorial, yaitu belajar melalui apa yang didengar. Ciri-ciri gaya belajar auditorial adalah bicara pada diri sendiri saat bekerja, konsentrasi mudah terganggu oleh suara ribut, senang bersuara keras ketika membaca, sulit menulis tapi mudah bercerita, pembicara yang fasih, sulit belajar dalam suasana bising, lebih suka musik dari pada lukisan, bicara dalam irama yang terpola, lebih suka gurauan lisan dari pada membaca buku humor, dan mudah menirukan nada, irama dan warna suara.
c.       Kinestetik, yaitu belajar lewat gerak dan sentuhan. Ciri-ciri gaya belajar kinestetik adalah berbicara dengan perlahan, menanggapi perhatian fisik, menyentuh orang untuk mendapat perhatian, banyak bergerak dan selalu berorientasi pada fisik, menggunakan jari sebagai penunjuk dalam membaca, banyak menggunakan isyarat tubuh, tidak bisa diam dalam waktu lama, menyukai permainan yang menyibukkan, selalu ingin melakukan sesuatu, dan tidak mudah mengingat letak geografis.
Berdasakan landasan rasional empiris tersebut, pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru. Akan tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pembelajar, materi pelajaran, dan media itu sendiri.[9]
6.      Landasan Religius
Menurut Drs. Mahfudh Shalahudin dalam bukunya Media Pendidikan Islam menyatakan ada beberapa dasar penggunaan media di antaranya adalah dasar religius yang berkenaan dengan penggunaan media pembelajaran. Dalam masalah penerapan media pendidikan agama, harus memperhatiakn jiwa keagamaan peserta didik. Oleh karena faktor inilah yang justru menjadi sasaran media pendidikan agama yang sangat prinsipil. Dengan tanpa memperhatikan serta memahami perkembangan jiwa anak atau tingkat daya fikir anak. Sebagaimana firman Allah surat An-Nahl ayat 125:
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-NYA dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”[10]
Hikmah adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang haq dan batil. Bermacam-macam orang mengartikan kata “hikmah” dalam arti “bijaksana”. Adapun yang mengartikan hikmah dengan cara yang tepat dan efektif.
Dapat disimpulkan bahwa hikmah adalah cara yang bijaksana, tepat, efektif, dan dapat diterima dengan akal. Oleh karena itu tugas pengamatan yang pertama harus dilakukan oleh guru agama sebagai pendidik adalah pengamatan langsung kepada perkembangan keagamaan anak didik. Sebab perkembangan sikap keagamaan anak sangat erat hubungannya dengan sikap percaya kepada Tuhan, yang telah diberikan di lingkungan keluarga atau masyarakat, yang selanjutnya dapat dijadikan bahan dasar pengertian dalam melaksanakan tugas sesuai dengan metode yang dipakai dalam proses belajar mengajar.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Media pembelajaran adalah sarana yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas kegiatan belajar mengajar agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Dalam penggunaan media pembelajaran perlu memperhatikan beberapa landasan yaitu: filosofis, historis, empiris, psikologis, teknologis, dan religius. Penggunaan media pembelajaran bertujuan untuk mempermudah dan meningkatkan efisiensi KBM, dan meningkatkan relevansi tujuan pembelajaran serta meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Dengan adanya media pembelajaran, banyak manfaat yang dapat diperoleh antara lain: proses KBM menjadi lebih menarik dan menyenangkan, serta tidak mengandung unsur tekanan, materi ajar dapat lebih mudah dipahami baik oleh pendidik maupun peserta didik, penggunaan metode yang bervariasi menjadikan siswa menjadi aktif karena siswa bukan hanya menjadi objek pembelajaran tapi juga sebagai subjek pembelajaran.



DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Departemen Agama RI.  Al-Quran dan terjemahannya. Semarang: PT Karya Toha Putra.
Hamalik, Oemar. 1989.  Media Pendidikan. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Sanaky, Hujair AH. 2015. Media Pembelajaran Interaktif-Inovatif. Yogyakarta: Kaukaba Dipantara.
Sudjana, nana dkk. 2001. Teknologi Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu.
Uwes, Sunasi. 2001. Visi dan Pondasi Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Jakarta: Logos.



[1] Oemar Hamalik, Media Pendidikan, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti,1989), 12
[2] Hujair AH Sanaky, Media Pembelajaran Interaktif-Inovatif, (Yogyakarta: Kaukaba Dipantara, 2015), 5
[3] Ibid, 5
[4] Ibid, 6
[5] Sunasi Uwes, Visi dan Pondasi Pendidikan Dalam Perspektif Islam (Jakarta: Logos,2001) 8

[6] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2003), 7-9

[7] Muhibbin  Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999), 37

[8] Sudjana,nana dkk, Teknologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2001), 27

[9]  Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2003), 19
[10] Departemen Agama RI, Al-Quran dan terjemahannya, (Semarang: PT Karya Toha Putra,tt), 536

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

NASKAH MEDIA PEMBELAJARAN

JENIS DAN KARAKTERISTIK MEDIA PEMBELAJARAN