Rancangan menggunkan media
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN 1
(RANCANGAN PENGGUNAAN MEDIA)
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Media Pembelajaran”
Dosen Pengampu:
Zeni Murtafiati Mizani, M.Pd.I
Disusun oleh:
Firda Nur’aini Azizah (210317417)
Hanna Latifah (210317439)
Yusqi Mahfudz (210317423)
KELOMPOK 6/KELAS PAI M
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Media pembelajaran adalah salah satu unsur yang memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar dapat membantu guru memperkaya wawasan siswa. Berbagai bentuk dan jenis media pembelajaran yang digunakan oleh guru akan menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi siswa.
Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar-mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran.
Semakin sadarnya orang akan pentingnya media yang membantu pembelajaran sudah mulai dirasakan. Pengelolaan alat bantu pembelajaran sudah sangat dibutuhkan. Bahkan pertumbuhan ini bersifat gradual. Metamorfosis dari perpustakaan yang menekankan pada penyediaan media cetak, menjadi penyediaan permintaan dan pemberian layanan secara multi-sensori dari beragamnya kemampuan individu untuk menyerap informasi, menjadikan pelayanan yang diberikan mutlak wajib bervariatif dan secara luas. Selain itu, dengan semakin meluasnya kemajuan di bidang komunikasi dan teknologi, serta diketemukannya dinamika proses belajar, maka pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pengajaran semakin menuntut dan memperoleh media pendidikan yang bervariasi secara luas.
Namun dalam pengembangan media pembelajaran itu sendiri juga harus memperhatikan banyak hal. Oleh karena itu di sini penulis akan membahas mengenai pengembangan media pembelajaran khusunya bagaimana rancangan penggunaaan media pembelajaran.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengertian pengembangan media pembelajaran?
2. Bagaimana menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa dalam pengembangan media pembelajaran?
3. Bagaimana perumusan tujuan dalam pengembangan media pembelajaran?
4. Bagaimana pengembangan materi dalam pengembangan media pembelajaran?
5. Bagaimana perumusan alat pengukuran keberhasilan dalam pengembangan media pembelajaran?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
Makalah ini disusun untuk bertujuan mengetahui:
1. Pengertian pengembangan media pembelajaran.
2. Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa dalam pengembangan media pembelajaran.
3. Perumusan tujuan dalam pengembangan media pembelajaran.
4. Pengembangan materi pembelajaran dalam pengembangan media pembelajaran.
5. Perumusan alat pengukuran keberhasilan dalam pengembangan media pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Pengertian pengembangan media pembelajaran adalah suatu usaha penyusunan program media pembelajaran yang lebih tertuju pada perencanaan media. Media pembelajaran yang akan ditampilkan atau digunakan dalam proses belajar mengajar terlebih dahulu direncanakan dan dirancang sesuai dengan kebutuhan lapangan atau siswanya.
Media pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara leluasa, kapanpun dan dimanapun, tanpa tergantung pada keberadaan seorang guru. Pembuatan media yang menarik atau yang sesuai dengan kebutuhan siswa juga akan sangat membantu guru dalam menyampaikan sebuah materi pelajaran kepada peserta didiknya. Sehingga dengan mengembangkan media, proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan selanjutnya akan mendorong siswa untuk lebih mencintai ilmu pengetahuan.
Dari pernyataan diatas penulis menyimpulkan bahwa pengertian pengembangan media pembelajaran adalah suatu usaha untuk membuat atau menyusun sebuah media pembelajaran yang bertujuan untuk membuat proses pembelajaran menjadi lebih efektif.
Secara garis besar kegiatan pengembangan media pembelajaran terdiri atas tiga langkah besar yang harus dilalui, yaitu kegiatan perencanaan, produksi dan penilaian. Sehubungan dengan pengembangan media pengajaran ini, Arif S. Sadiman, dkk, mengemukakan urutan langkah-langkah yang perlu diambil dalam mengembangkan program media, sebagai berikut:
1. Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa.
2. Merumuskan tujuan instruksional (instructional objective) secara operasional dan jelas.
3. Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang dapat mendukung tercapainya tujuan.
4. Mengembangkan alat ukur keberhasilan.
5. Menuliskan naskah media.
6. Mengadakan tes revisi.
B. KEBUTUHAN DAN KARAKTERISTIK SISWA DALAM PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Yang dimaksud dengan kebutuhan dalam proses belajar mengajar adalah kesenjangan antara apa yang dimiliki siswa dengan apa yang diharapkan. Dalam proses belajar, yang dimaksud dengan kebutuhan adalah kesenjangan antara kemampuan, keterampilan, dan sikap siswa yang kita inginkan dengan kemampuan, keterampilan, dan sikap siswa yang mereka miliki sekarang.
Sebagai contoh bila pendidik mengaharapkan siswanya dapat melakukan sholat dengan baik dan sempurna di mana mereka dapat melakukan gerakan-gerakan dengan benar, sedangkan mereka diketahui melalui proses sebelum pelajarab diberikan, hanya baru dapat melakukan gerakan takbir dan membaca bacaan shalat masih banyak kesalahan. Untuk itu diperlukan latihan ruku’, i’tidal, sujud, duduk tahyat, dan sebagainya serta mampu membaca bacaan-bacaan dalam shalat dengan baik dan benar.
Diharapkan media yang dirancang oleh seorang pendidik dapat dimanfaatkan oleh peserta didik dengan sebaik-baiknya. Sebagai seorang pendidik yang akan merancang dan mengembangkan media pembelajaran terlebih dahulu harus mengetahui pengetahuan dan keterampilan awal yang dimiliki para siswa sebelum mengikuti pelajaran yang disajikan melalui program pengembangan media tersebut. Penelitian ini dapat dilakukan melalui pretest dengan menggunakan tes yang sesuai dengan apa yang diinginkan, sehingga pembelajaran yang dirancang dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang dicapai.
Selain melalui tes cara menganalisa karakteristik siswa juga bisa dengan cara menganalisa topik-topik materi ajar yang dipandang sulit dan oleh karena itu memerlukan bantuan media. Setelah mengetahui kebutuhan dan karakteristik siswa pendidik bisa menentukan akan menggunakan media audio, visual, gerak atau diam.
Menurut Abdul Razak, ada empat teknik dalam menganalisis karakteristik awal siswa, yaitu:
1. Dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang tersedia.
Dokumen yang dimaksud misalnya nilai ijazah, nilai rapor, nilai tes intelegensi, dan nilai tes masuk. Catatan-catatan prestasi mengenai prestasi dalam berbagai bidang kegiatan yang pernah diperoleh, kesemuanya merupakan informasi yang sangat berguna untuk mengetahui keadaan siswa.
2. Dengan menggunakan tes prasyarat dan tes awal.
Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan atau diisyaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal adalah tes untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai ajaran yang hendak diikuti. Hasil pre tes sangat berguna untuk membandingkan antara pengetahuan yang sudah dimiliki dengan pencapaian setelah mengikuti pelajaran.
3. Dengan mengadakan konsultasi individual.
Dengan pendekatan secara personal guru akan lebih mengetahui informasi mengeai minat, sikap, keinginan siswa dan sebagainya.
4. Dengan menyampaikan angket atau quwstionnair.
Angket bisa disusun kemudian disampaikan kepada siswa misalnya untuk mengetahui gaya belajar siswa.
C. PERUMUSAN TUJUAN DALAM PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Perumusan tujuan merupakan hal pokok yang harus dilakukan sebelum merancang suatu progam media. Sebab dengan penetapan tujuan tersebut dapat diketahui arah suatu program pengajaran. Untuk merumuskan tujuan pengajaran secara baik, maka tujuan tersebut harus:
1. Berorientasi pada kepentingan peserta didik, bukan pada guru. Titik tolaknya adalah perubahan tingkah laku apakah yang diharapkan setelah mereka selesai belajar.
2. Dinyatakan dengan kata kerja yang operasional, artinya menunjukkan pada hasil perbuatan yang dapat diamati atau hasilnya dapat diukur dengan alat ukur tertentu.
Beberapa contoh dari kategori kata operasional adalah sebagai berikut:
Kata Kerja Operasional Kata Kerja tidak Operasional
Mengidentifikasikan
Menyebutkan
Menunjukkan
Memilih
Menjelaskan
Menguraikan
Merumuskan
Menyimpulkan
Mendemostrasikan
Membuat
Menghitung
Menunjukkan
Menemukan
Membedaka, dll Mengerti
Memahami
Menghargai
Menyukai
Mempercayai
Dan lain-lain
Sebuah tujuan pembelajaran hendaknya memiliki empat unsur pokok yang dapat diakronimkan dalam ABCD. Rumusan ABCD merupakan akronim dari komponen-komponen sebagai berikut:
A = Audience adalah menyebutkan sasaran atau audien yang dijadikan sasaran pembelajaran maksudnya individu yang belajar atau peserta didik.
B = Behavior adalah menyatakan prilaku spesifik yang diharapkan atau yang dapat dilakukan setelah pembelajaran berlangsung.
C = Condition adalah menyebutkan kondisi yang menggambarkan situasi yang terjadi pada saat belajar atau di mana sasaran dapat mendemonstrasikan kemampuannya atau keterampilannya.
D = Degree adalah menyebutkan batasan tingkatan minimal yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik.
Contoh rumusan tujuan pembelajaran:
Setelah mengikuti praktek sholat, siswa kelas 6 MI dapat mempraktekkannya
(C) (A) (B)
(sholat) dengan benar
(D)
D. PENGEMBANGAN MATERI DALAM PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Dalam pengembangan materi, tindakan yang dilakukan selanjutnya menganalisis tujuan-tujuan yang telah ditetapkan menjadi sub-sub kemampuan dan sub-sub keterampilan yang disusun secara baik, sehingga diperoleh bahan pengajaran yang terperinci yang dapat mendukung tujuan tersebut. Daftar kemampuan itulah yang menjadi bahan pengajaran yang disajikan kepada siswa. Dengan cara tersebut dapat diperoleh bahan pembelajaran yang lengkap dan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Setelah daftar pokok-pokok materi pembelajaran dapat tersusun dengan baik, selanjtnya mengorganisasikan urutan-urutan penyajiannya, yakni dari hal-hal yang sederhana menuju hal-hal yang rumit, dari hal-hal yang konkrit ke hal-hal yang abstrak, dan dari yang bersifat khusus ke hal-hal yang umum.
Ada beberapa jenis materi pembelajaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Fakta yaitu segala hal yang berwujud kenyataan dan kebenaran.
2. Konsep yaitu segala hal yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran.
3. Prinsip yaitu berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting.
4. Prosedur yaitu langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi sautu sistem.
5. Sikap atau nilai merupakan hasil belajar aspek sikap atau perilaku.
Penentuan materi pembelajaran dapat menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1. Identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu diidentifikasi aspek-aspek keutuhan kompetensi yang harus dipelajari atau dikuasai peserta didik. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasi peserta didik termasuk ranah kognitif, psikomotorik, ataukah afektif.
2. Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaran.
Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaran dilakukan berkaitan dengan keseuaian materi pembelajaran dengan tingkatan aktivitas/ranah pembelajarannya. Materi yang disampaikan perlu diidentifikasi secara tepat agar pencapaian kompetensinya dapat diukur. Di samping itu, dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan disampaikan , maka guru mendapatkan dalam metode pembelajarannya. Sebab, setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi, metode, media dan sistem evaluasi yang berbeda-beda.
E. PERUMUSAN ALAT PENGUKUR KEBERHASILAN DALAM PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Untuk dapat mengetahui berhasil tidaknya suatu pekerjaan atau suatu pengajaran yang dilakukan, dengan kata lain apakah siswa telah berhasil dalam belajar atau belum, diperlukan alat ukur yang sesuai untuk kegunaan tersebut. Alat ukur tersebut dibuat secara teliti dan direncanakan sebelum kegiatan belajar dilakukan. Alat ukur hasil belajar tersebut dapat berupa tes, penugasan, atau daftar cek perilaku, dan sebagainya. Sebagai pedoman dalam pembuatan alat ukur yang baik, sebaiknya setiap kemampuan dan keterampilan yang mendukung tercapainya tujuan instruksional khusus yang dijadikan bahan tes, atau daftar cek perilaku.
Instrumen tersebut akan digunakan oleh pengembang media, ketika melakukan tes uji coba dari program media yang dikembangkannya. Misalkan alat pengukurnya tes, maka siswa nanti akan diminta mengerjakan materi tes tersebut. Kemudian dilihat bagaimana hasilnya. Apakah siswa menunjukkan penguasaan materi yang baik atau tidak dari efek media yang digunakannya atau dari materi yang dipelajarinya melalui sajian media. Jika tidak maka dimanakah letak kekurangannya. Dengan demikian, maka siswa dimintai tanggapan tentang media tersebut, baik dari segi kemenarikan maupun efektifitas penyajiannya.
Sebagai salah satu contoh tentang alat pengukur keberhasilan dari media yang dikembangkan oleh guru adalah sebagai berikut:
Rumusan Tujuan Rumusan Materi Alat Pengukur (Tes)
Siswa kelas VI MI dapat mempraktekkan tata cara sholat dengan benar Tata cara sholat Sebutkan bacaan ketika ruku’, i’tidal dan sujud?
Dari contoh di atas, jelaslah bahwa penyusunan alat ukur keberhasilan harus berdasar dari rumusan tujuan dan materi pembelajaran yang akan diajarkan melalui media pembelajaran tersebut.
Alat pengukur keberhasilan harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan pokok-pokok materi pembelajaran yang akan disajikan kepada siswa. Hal yang diukur atau yang dievaluasi ialah kemampuan, keterampilan atau sikap siswa yang dinyatakan dalam tujuan yang diharapkan dapat dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan instruksional itu.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Pengembangan media pembelajaran adalah suatu usaha penyusunan program media pembelajaran yang lebih tertuju pada perencanaan media.
2. Kebutuhan dalam proses belajar mengajar adalah kesenjangan antara apa yang dimiliki siswa dengan apa yang diharapkan.
3. Perumusan tujuan merupakan hal pokok yang harus dilakukan sebelum merancang suatu progam media. Sebab dengan penetapan tujuan tersebut dapat diketahui arah suatu program pengajaran.
4. Pengembangan materi disesuaikan dengan tujuan yang telah ditetapkan.
5. Untuk dapat mengetahui berhasil tidaknya suatu pekerjaan atau suatu pengajaran yang dilakukan, dengan kata lain apakah siswa telah berhasil dalam belajar atau belum, diperlukan alat ukur yang sesuai untuk kegunaan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Pribadi. Benny A. 2011. Model Assure untuk Mendesain Pembelajaran Sukses. Jakarta: Dian Rakyat
Puspitarini, Dwi. 2013. Media Pembelajaran: Pemilihan, Penggunaan, Pengembangan. Jember: STAIN PRESS
Razak, Abdul. 2011. Analisis Pembelajaran dan Identifikasi Perilaku dan Karakteristik Awal Siswa. Jakarta: Rajawali Press
Susilana, R dan Cepi Riyana. 2009. Media Pembelajaran: Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian. Bandung: Wacana Prima
Usman, Basyirudin. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers
(RANCANGAN PENGGUNAAN MEDIA)
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Media Pembelajaran”
Dosen Pengampu:
Zeni Murtafiati Mizani, M.Pd.I
Disusun oleh:
Firda Nur’aini Azizah (210317417)
Hanna Latifah (210317439)
Yusqi Mahfudz (210317423)
KELOMPOK 6/KELAS PAI M
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Media pembelajaran adalah salah satu unsur yang memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar dapat membantu guru memperkaya wawasan siswa. Berbagai bentuk dan jenis media pembelajaran yang digunakan oleh guru akan menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi siswa.
Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar-mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran.
Semakin sadarnya orang akan pentingnya media yang membantu pembelajaran sudah mulai dirasakan. Pengelolaan alat bantu pembelajaran sudah sangat dibutuhkan. Bahkan pertumbuhan ini bersifat gradual. Metamorfosis dari perpustakaan yang menekankan pada penyediaan media cetak, menjadi penyediaan permintaan dan pemberian layanan secara multi-sensori dari beragamnya kemampuan individu untuk menyerap informasi, menjadikan pelayanan yang diberikan mutlak wajib bervariatif dan secara luas. Selain itu, dengan semakin meluasnya kemajuan di bidang komunikasi dan teknologi, serta diketemukannya dinamika proses belajar, maka pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pengajaran semakin menuntut dan memperoleh media pendidikan yang bervariasi secara luas.
Namun dalam pengembangan media pembelajaran itu sendiri juga harus memperhatikan banyak hal. Oleh karena itu di sini penulis akan membahas mengenai pengembangan media pembelajaran khusunya bagaimana rancangan penggunaaan media pembelajaran.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengertian pengembangan media pembelajaran?
2. Bagaimana menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa dalam pengembangan media pembelajaran?
3. Bagaimana perumusan tujuan dalam pengembangan media pembelajaran?
4. Bagaimana pengembangan materi dalam pengembangan media pembelajaran?
5. Bagaimana perumusan alat pengukuran keberhasilan dalam pengembangan media pembelajaran?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
Makalah ini disusun untuk bertujuan mengetahui:
1. Pengertian pengembangan media pembelajaran.
2. Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa dalam pengembangan media pembelajaran.
3. Perumusan tujuan dalam pengembangan media pembelajaran.
4. Pengembangan materi pembelajaran dalam pengembangan media pembelajaran.
5. Perumusan alat pengukuran keberhasilan dalam pengembangan media pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Pengertian pengembangan media pembelajaran adalah suatu usaha penyusunan program media pembelajaran yang lebih tertuju pada perencanaan media. Media pembelajaran yang akan ditampilkan atau digunakan dalam proses belajar mengajar terlebih dahulu direncanakan dan dirancang sesuai dengan kebutuhan lapangan atau siswanya.
Media pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara leluasa, kapanpun dan dimanapun, tanpa tergantung pada keberadaan seorang guru. Pembuatan media yang menarik atau yang sesuai dengan kebutuhan siswa juga akan sangat membantu guru dalam menyampaikan sebuah materi pelajaran kepada peserta didiknya. Sehingga dengan mengembangkan media, proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan selanjutnya akan mendorong siswa untuk lebih mencintai ilmu pengetahuan.
Dari pernyataan diatas penulis menyimpulkan bahwa pengertian pengembangan media pembelajaran adalah suatu usaha untuk membuat atau menyusun sebuah media pembelajaran yang bertujuan untuk membuat proses pembelajaran menjadi lebih efektif.
Secara garis besar kegiatan pengembangan media pembelajaran terdiri atas tiga langkah besar yang harus dilalui, yaitu kegiatan perencanaan, produksi dan penilaian. Sehubungan dengan pengembangan media pengajaran ini, Arif S. Sadiman, dkk, mengemukakan urutan langkah-langkah yang perlu diambil dalam mengembangkan program media, sebagai berikut:
1. Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa.
2. Merumuskan tujuan instruksional (instructional objective) secara operasional dan jelas.
3. Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang dapat mendukung tercapainya tujuan.
4. Mengembangkan alat ukur keberhasilan.
5. Menuliskan naskah media.
6. Mengadakan tes revisi.
B. KEBUTUHAN DAN KARAKTERISTIK SISWA DALAM PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Yang dimaksud dengan kebutuhan dalam proses belajar mengajar adalah kesenjangan antara apa yang dimiliki siswa dengan apa yang diharapkan. Dalam proses belajar, yang dimaksud dengan kebutuhan adalah kesenjangan antara kemampuan, keterampilan, dan sikap siswa yang kita inginkan dengan kemampuan, keterampilan, dan sikap siswa yang mereka miliki sekarang.
Sebagai contoh bila pendidik mengaharapkan siswanya dapat melakukan sholat dengan baik dan sempurna di mana mereka dapat melakukan gerakan-gerakan dengan benar, sedangkan mereka diketahui melalui proses sebelum pelajarab diberikan, hanya baru dapat melakukan gerakan takbir dan membaca bacaan shalat masih banyak kesalahan. Untuk itu diperlukan latihan ruku’, i’tidal, sujud, duduk tahyat, dan sebagainya serta mampu membaca bacaan-bacaan dalam shalat dengan baik dan benar.
Diharapkan media yang dirancang oleh seorang pendidik dapat dimanfaatkan oleh peserta didik dengan sebaik-baiknya. Sebagai seorang pendidik yang akan merancang dan mengembangkan media pembelajaran terlebih dahulu harus mengetahui pengetahuan dan keterampilan awal yang dimiliki para siswa sebelum mengikuti pelajaran yang disajikan melalui program pengembangan media tersebut. Penelitian ini dapat dilakukan melalui pretest dengan menggunakan tes yang sesuai dengan apa yang diinginkan, sehingga pembelajaran yang dirancang dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang dicapai.
Selain melalui tes cara menganalisa karakteristik siswa juga bisa dengan cara menganalisa topik-topik materi ajar yang dipandang sulit dan oleh karena itu memerlukan bantuan media. Setelah mengetahui kebutuhan dan karakteristik siswa pendidik bisa menentukan akan menggunakan media audio, visual, gerak atau diam.
Menurut Abdul Razak, ada empat teknik dalam menganalisis karakteristik awal siswa, yaitu:
1. Dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang tersedia.
Dokumen yang dimaksud misalnya nilai ijazah, nilai rapor, nilai tes intelegensi, dan nilai tes masuk. Catatan-catatan prestasi mengenai prestasi dalam berbagai bidang kegiatan yang pernah diperoleh, kesemuanya merupakan informasi yang sangat berguna untuk mengetahui keadaan siswa.
2. Dengan menggunakan tes prasyarat dan tes awal.
Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan atau diisyaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal adalah tes untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai ajaran yang hendak diikuti. Hasil pre tes sangat berguna untuk membandingkan antara pengetahuan yang sudah dimiliki dengan pencapaian setelah mengikuti pelajaran.
3. Dengan mengadakan konsultasi individual.
Dengan pendekatan secara personal guru akan lebih mengetahui informasi mengeai minat, sikap, keinginan siswa dan sebagainya.
4. Dengan menyampaikan angket atau quwstionnair.
Angket bisa disusun kemudian disampaikan kepada siswa misalnya untuk mengetahui gaya belajar siswa.
C. PERUMUSAN TUJUAN DALAM PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Perumusan tujuan merupakan hal pokok yang harus dilakukan sebelum merancang suatu progam media. Sebab dengan penetapan tujuan tersebut dapat diketahui arah suatu program pengajaran. Untuk merumuskan tujuan pengajaran secara baik, maka tujuan tersebut harus:
1. Berorientasi pada kepentingan peserta didik, bukan pada guru. Titik tolaknya adalah perubahan tingkah laku apakah yang diharapkan setelah mereka selesai belajar.
2. Dinyatakan dengan kata kerja yang operasional, artinya menunjukkan pada hasil perbuatan yang dapat diamati atau hasilnya dapat diukur dengan alat ukur tertentu.
Beberapa contoh dari kategori kata operasional adalah sebagai berikut:
Kata Kerja Operasional Kata Kerja tidak Operasional
Mengidentifikasikan
Menyebutkan
Menunjukkan
Memilih
Menjelaskan
Menguraikan
Merumuskan
Menyimpulkan
Mendemostrasikan
Membuat
Menghitung
Menunjukkan
Menemukan
Membedaka, dll Mengerti
Memahami
Menghargai
Menyukai
Mempercayai
Dan lain-lain
Sebuah tujuan pembelajaran hendaknya memiliki empat unsur pokok yang dapat diakronimkan dalam ABCD. Rumusan ABCD merupakan akronim dari komponen-komponen sebagai berikut:
A = Audience adalah menyebutkan sasaran atau audien yang dijadikan sasaran pembelajaran maksudnya individu yang belajar atau peserta didik.
B = Behavior adalah menyatakan prilaku spesifik yang diharapkan atau yang dapat dilakukan setelah pembelajaran berlangsung.
C = Condition adalah menyebutkan kondisi yang menggambarkan situasi yang terjadi pada saat belajar atau di mana sasaran dapat mendemonstrasikan kemampuannya atau keterampilannya.
D = Degree adalah menyebutkan batasan tingkatan minimal yang diharapkan dapat dicapai oleh peserta didik.
Contoh rumusan tujuan pembelajaran:
Setelah mengikuti praktek sholat, siswa kelas 6 MI dapat mempraktekkannya
(C) (A) (B)
(sholat) dengan benar
(D)
D. PENGEMBANGAN MATERI DALAM PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Dalam pengembangan materi, tindakan yang dilakukan selanjutnya menganalisis tujuan-tujuan yang telah ditetapkan menjadi sub-sub kemampuan dan sub-sub keterampilan yang disusun secara baik, sehingga diperoleh bahan pengajaran yang terperinci yang dapat mendukung tujuan tersebut. Daftar kemampuan itulah yang menjadi bahan pengajaran yang disajikan kepada siswa. Dengan cara tersebut dapat diperoleh bahan pembelajaran yang lengkap dan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Setelah daftar pokok-pokok materi pembelajaran dapat tersusun dengan baik, selanjtnya mengorganisasikan urutan-urutan penyajiannya, yakni dari hal-hal yang sederhana menuju hal-hal yang rumit, dari hal-hal yang konkrit ke hal-hal yang abstrak, dan dari yang bersifat khusus ke hal-hal yang umum.
Ada beberapa jenis materi pembelajaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Fakta yaitu segala hal yang berwujud kenyataan dan kebenaran.
2. Konsep yaitu segala hal yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran.
3. Prinsip yaitu berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting.
4. Prosedur yaitu langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi sautu sistem.
5. Sikap atau nilai merupakan hasil belajar aspek sikap atau perilaku.
Penentuan materi pembelajaran dapat menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1. Identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu diidentifikasi aspek-aspek keutuhan kompetensi yang harus dipelajari atau dikuasai peserta didik. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasi peserta didik termasuk ranah kognitif, psikomotorik, ataukah afektif.
2. Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaran.
Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaran dilakukan berkaitan dengan keseuaian materi pembelajaran dengan tingkatan aktivitas/ranah pembelajarannya. Materi yang disampaikan perlu diidentifikasi secara tepat agar pencapaian kompetensinya dapat diukur. Di samping itu, dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan disampaikan , maka guru mendapatkan dalam metode pembelajarannya. Sebab, setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi, metode, media dan sistem evaluasi yang berbeda-beda.
E. PERUMUSAN ALAT PENGUKUR KEBERHASILAN DALAM PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN
Untuk dapat mengetahui berhasil tidaknya suatu pekerjaan atau suatu pengajaran yang dilakukan, dengan kata lain apakah siswa telah berhasil dalam belajar atau belum, diperlukan alat ukur yang sesuai untuk kegunaan tersebut. Alat ukur tersebut dibuat secara teliti dan direncanakan sebelum kegiatan belajar dilakukan. Alat ukur hasil belajar tersebut dapat berupa tes, penugasan, atau daftar cek perilaku, dan sebagainya. Sebagai pedoman dalam pembuatan alat ukur yang baik, sebaiknya setiap kemampuan dan keterampilan yang mendukung tercapainya tujuan instruksional khusus yang dijadikan bahan tes, atau daftar cek perilaku.
Instrumen tersebut akan digunakan oleh pengembang media, ketika melakukan tes uji coba dari program media yang dikembangkannya. Misalkan alat pengukurnya tes, maka siswa nanti akan diminta mengerjakan materi tes tersebut. Kemudian dilihat bagaimana hasilnya. Apakah siswa menunjukkan penguasaan materi yang baik atau tidak dari efek media yang digunakannya atau dari materi yang dipelajarinya melalui sajian media. Jika tidak maka dimanakah letak kekurangannya. Dengan demikian, maka siswa dimintai tanggapan tentang media tersebut, baik dari segi kemenarikan maupun efektifitas penyajiannya.
Sebagai salah satu contoh tentang alat pengukur keberhasilan dari media yang dikembangkan oleh guru adalah sebagai berikut:
Rumusan Tujuan Rumusan Materi Alat Pengukur (Tes)
Siswa kelas VI MI dapat mempraktekkan tata cara sholat dengan benar Tata cara sholat Sebutkan bacaan ketika ruku’, i’tidal dan sujud?
Dari contoh di atas, jelaslah bahwa penyusunan alat ukur keberhasilan harus berdasar dari rumusan tujuan dan materi pembelajaran yang akan diajarkan melalui media pembelajaran tersebut.
Alat pengukur keberhasilan harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan pokok-pokok materi pembelajaran yang akan disajikan kepada siswa. Hal yang diukur atau yang dievaluasi ialah kemampuan, keterampilan atau sikap siswa yang dinyatakan dalam tujuan yang diharapkan dapat dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan instruksional itu.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Pengembangan media pembelajaran adalah suatu usaha penyusunan program media pembelajaran yang lebih tertuju pada perencanaan media.
2. Kebutuhan dalam proses belajar mengajar adalah kesenjangan antara apa yang dimiliki siswa dengan apa yang diharapkan.
3. Perumusan tujuan merupakan hal pokok yang harus dilakukan sebelum merancang suatu progam media. Sebab dengan penetapan tujuan tersebut dapat diketahui arah suatu program pengajaran.
4. Pengembangan materi disesuaikan dengan tujuan yang telah ditetapkan.
5. Untuk dapat mengetahui berhasil tidaknya suatu pekerjaan atau suatu pengajaran yang dilakukan, dengan kata lain apakah siswa telah berhasil dalam belajar atau belum, diperlukan alat ukur yang sesuai untuk kegunaan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Pribadi. Benny A. 2011. Model Assure untuk Mendesain Pembelajaran Sukses. Jakarta: Dian Rakyat
Puspitarini, Dwi. 2013. Media Pembelajaran: Pemilihan, Penggunaan, Pengembangan. Jember: STAIN PRESS
Razak, Abdul. 2011. Analisis Pembelajaran dan Identifikasi Perilaku dan Karakteristik Awal Siswa. Jakarta: Rajawali Press
Susilana, R dan Cepi Riyana. 2009. Media Pembelajaran: Hakikat, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian. Bandung: Wacana Prima
Usman, Basyirudin. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers
Komentar
Posting Komentar